Gelanggang Mahasiswa: Suarakan Kebenaran

PERAN PENDIDIK DI ERA DIGITAL 4.0 MENGHADAPI PERMASALAHAN PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI “Sonia Yulia Friska, M.Pd.”

549

Permasalahan yang dihadapi oleh dunia pendidikan di Indonesia saat ini adalah, mutu pendidikan Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya, Survei Program for International Student Assessment (PISA) tahun 2018 yang baru saja dirilis pada Selasa (3/12/2019) menyatakan studi ini menilai 600.000 anak berusia 15 tahun dari 79 negara setiap tiga tahun sekali. Studi ini membandingkan kemampuan matematika, membaca, dan kinerja sains dari tiap anak. Berdasarkan pada kondisi tersebut, terlihat mutu pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Terlebih di tengah kasus Covid-19 yang semua aktivitas pembelajaran di alihkan ke rumah semakin membuat mutu kualitas pendidikan semakin menurun dan tidak efektif. Belum lagi permasalahan kasus kriminal yang di alami oleh pelajar dan tenaga pengajar di berbagai daerah Indonesia sebelum adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan dunia pendidikan untuk segera menemukan solusi sebagai bahan intropeksi agar lebih memperhatikan segala kendala atau pun hal-hal yang harus di tingkatkan dalam dunia pendidikan itu sendiri dengan tujuan utama untuk mencapai keberhasilan yang hakiki bagi para generasi bangsa maupun para pendidik seperti yang dijanjikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bahwa akan menyederhanakan administrasi pendidikan bagi guru demi menunjang keberhasilan pada dunia pendidikan (sudjatmiko, 2019).Hal ini memberikan dampak kurang mampunya pendidikan menghasilkan sumber daya manusia yang mandiri,  yang memiliki etos kerja tinggi serta produktif untuk menghadapi revolusi industri 4.0.

Akibat rendahnya kwalitas SDM  berakibat pada  tingginya tingkat pengangguran lulusan  jenjang sekolah tingkat atas maupun sarjana serta kecendrungan untuk hanya menjadi pekerja kelas menengah. Dengan kata lain pendidikan di Indonesia masih kurang memenuhi harapan masyarakat akan lulusan  yang bermutu. Pada abad ini, sangat diperlukan paradigma dalam belajar dengan melakukan perubahan atau reformasi dalam pembelajaran guna mencari cara-cara baru yang lebih efektif dalam pembelajaran. Disinilah tuntutan peran kreativitas guru untuk menemukan serta melaksanakan kinerja yang inovatif dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Ini adalah tantangan yang dapat dibilang tidak hanya berfokus pada yang diajarkan, tetapi juga cara pengajarannya yang mana pendidikan tersebut sendiri didasarkan pada kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan yang ada di masa depan.

Gambar 1: Revolusi Pendidikan 4.0

Dunia pendidikan sebagai suatu sub sistem kehidupan masyarakat perlu menyikapi dengan terbuka berbagai inovasi yang ada dalam dunia pendidikan, maupun yang terjadi dalam bidang kehidupan lainnya sebagai upaya untuk mengintegrasikannya agar dapat dicapai suatu kondisi pendidikan yang tidak tertinggal dengan perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai akibat akumulasi inovasi. Mengacu pada permasalahan yang telah dikemukakan diatas, kajian pembelajaran inovasi memasuki era pendidikan 4.0 merupakan tuntutan dalam dunia pendidikan yang merupakan suatu keharusan untuk selalu mencermati perubahan-perubahan yang terjadi untuk menghadapi industri 4.0. Pendidik meyakini bahwa peserta didik milenial tak asing dengan kehidupan serba digital bahkan sejak lahir sudah terpapar dengan teknologi digital ini, ternyata peserta didik sangat mudah beradaptasi. Bahkan dengan sendirinya mereka mampu menyelesaikan segala tugas dari gawai cerdas digenggaman. Justru tantangan ada para pendidik yang mesti segera beradaptasi dengan era digital. Selaku pendidik ternyata kita harus menyadari bahwa kalaulah hanya ilmu yang ingin kita berikan kepada peserta didik, ternyata semua hal mereka bisa dapatkan dari genggaman tangan mereka dengan cepat. Semua informasi bisa mereka peroleh dari berselancar di mesin pencarian bahkan tutorial dan penjelasan materi, informasi dan gudang ilmu sangat terbuka luas di media social seperti youtube dan sebagainya.

Dahulu peserta didik mencatat di papan tulis lalu semua teman sekelas menyalin ke dalam buku catatan mereka. Catat Buku Sampai Habis. Guru ceramah panjang lebar, peserta mendengar sampai mengantuk. Zaman sudah berubah, maka cara mendidik perlu disesuaikan dengan era dan zamannya. Gap zaman pembelajaran antara peserta didik yang milenial dan pendidik yang merupakan imigran teknologi digital harus diminimalisir.Tentunya harus menjadi renungan seorang guru dan dosen. Kalaulah sekedar pintar dan pandai, teknologi internet mungkin bisa jadi lebih pintar bahkan mampu menyajikan dan memberikan segala macam hal informasi yang dibutuhkan. Lalu apa peran pendidik yang membedakan dari gawai cerdas di genggaman mereka? Melalui gawai itu tampak lebih efektif. Bertanya kepada guru dan dosen tidak lagi menjadi pilihan, karna google dan search engine lain sepertinya lebih cepat menjawab. Benarkah sepenuhnya demikian? Bagaimanapun ternyata peran guru dan dosen sesungguhnya tidak bisa digantikan dangan teknologi. Karena guru dan dosen bukan sekedar sumber ilmu pengetahuan, melainkan mesti menjadi contoh dan teladan yang mentransfer adab dan tata nilai. Keberadaan fisik seorang guru dan dosen tetap dibutuhkan oleh peserta didik dalam proses belajar mengajar karena fungsinya tidak hanya menyampaikan materi dan transfer ilmu namun mendidik karakter serta mengajarkan bagaimana memaknai dan menjalani hidup dengan lebih baik. Hal yang perlu direfleksikan, bahwa hal penting dalam hidup seperti tanggung jawab, kedisiplinan, rasa empati kepada orang lain, jujur, kerja keras, saling menghormati, mencintai sesama manusia, kesederhanaan, keikhlasan, dan lain-lain tidak bisa ditemukan bahkan dalam gawai yang smart sekalipun. Hal itu hanya didapat dari keteladanan dan pembiasaan karakter. Itulah peran sejati guru dan dosen yang di gugu dan ditiru yang tak mampu di gantikan oleh teknologi manapun.

Era digital ini justru sangat membutuhkan peran guru dan dosen dalam memfilter informasi kepada para peserta didik. Oleh karena itu, menjadi tantangan pendidik yang dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman terutama era digital ini membuka inovasi dalam mengajar. Pendidik mestinya tidak enggan dan segan untuk mencoba platform digital, melalui platform digital pembagian tugas menjadi semakin mudah dan juga menjadwalkan proses pembelajaran lebih mudah dengan adanya Learning Management System tersebut. Dalam disrupsi pekerjaan di beberapa lini industri. Permintaan akan individu dengan penguasaan keterampilan baru pun menjadi sebuah keniscayaan bagi setiap perusahaan. soft skill atau kemampuan yang bersifat afektif dan psikomotorik juga memiliki peran yang sangat penting. Kemampuan seperti critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention justru sangat dibutuhkan dalam persaingan global. Dalam hal ini, sistem sekolah dasar dan menengah memiliki peran vital dalam mempersiapkan individu global dan mencetak tenaga kerja berkualitas untuk masa mendatang. Melansir white paper yang diterbitkan oleh World Economic Forum (WEF) pada Januari 2020, dunia saat ini membutuhkan metode Pendidikan 4.0 guna mendukung The Fourth Industrial Revolution. Pada white paper tersebut, disebutkan delapan karakteristik kritis dalam konten dan pengalaman pembelajaran untuk menerapkan Pendidikan 4.0. Kedepalan karakteristik tersebut meliputi kemampuan masyarakat global, kemampuan berinovasi dan berkreativitas, kemampuan teknologi, kemampuan interpersonal, dan pembelajaran yang telah dipersonalisasi sesuai karakteristik individu masing-masing (personalized and self-paced learning). Selanjutnya, ada pembelajaran inklusif, pembelajaran yang berbasis pada masalah dan kolaboratif, serta pembelajaran seumur hidup sesuai dengan kebutuhan siswa (lifelong and student-driven learning). Peran Pendidik pada era digital 4.0 pada umumnya adalah membuat teknologi dapat meningkatkan motivasi peserta didik dan Teknologi meningkatkan motivasi peserta didik dan meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran, Teknologi membantu meningkatkan pencapaian dan standar pembelajaran, Teknologi mendukung personalize learning. Teknologi membuat konsep yang sulit dan abstrak menjadi lebih mudah dieksplorasi, Teknologi membuka peluang dialog dengan orang tua peserta didik untuk pengembangan pembelajaran, Teknologi membuat pekerjaan lebih cepat dan efisien. Di era 4.0 teknologi diciptakan untuk melengkapi dan membantu manusia dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya, namun bukan untuk menggantikan perannya secara keseluruhan apalagi guru dan dosen sang pendidik generasi yang berperan dalam pengajaran dan pendidikan. (*Artikel ini disampaikan pada Kegiatan Kuliah Umum FKIP Undhari, Kamis, 11 Februari 2021.**Dosen PGSD FKIP Undhari.

Leave A Reply

Your email address will not be published.