Oleh: Popi Puspita
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Masa kecil adalah masa ketika kebahagiaan dapat ditemukan dalam berbagai hal sederhana. Tidak diperlukan tempat mewah atau permainan mahal. Bermain bersama, berbagi cerita, dan tertawa tanpa memikirkan hari esok sudah cukup membuat dunia terasa menyenangkan.

Salah satu kenangan masa kecil yang paling kuingat adalah persahabatanku dengan seorang teman bernama Nayla. Aku biasa memanggilnya Cici.

Kami pertama kali bertemu ketika duduk di kelas V sekolah dasar. Saat itu, Cici merupakan murid pindahan. Kehadirannya sebagai teman baru membuatku penasaran. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk saling mengenal dan menjadi dekat. Sejak pertemuan tersebut, hampir setiap hari kami lalui bersama.

Pada pagi hari sebelum masuk kelas, kami sering membeli sarapan bersama. Ketika bel istirahat berbunyi, kami segera bergabung dengan teman-teman lain untuk bermain lompat tali dan permainan gambar. Tawa kami memenuhi halaman sekolah hingga bel kembali berbunyi dan memaksa kami masuk ke kelas.

Kebersamaan itu tidak berakhir setelah jam sekolah selesai. Sepulang sekolah, kami sering bermain di halaman rumah. Ada kalanya kami bermain petak umpet, lempar botol, masak-masakan, atau bersepeda mengelilingi lingkungan sekitar. Jika mulai lelah, kami duduk di bawah pohon sambil membicarakan berbagai peristiwa kecil yang terjadi di sekolah.

Bagi orang dewasa, cerita kami mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi dua anak kecil, cerita tentang tugas sekolah, teman sekelas, dan permainan pada hari itu terasa seperti hal paling penting di dunia.

Aku dan Cici juga duduk di bangku yang sama. Sebagai teman sebangku, kami terbiasa saling membantu ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas.

Suatu hari, aku merasa panik karena lupa membawa pena. Guru telah memberikan tugas yang harus segera dikerjakan, sedangkan aku hanya dapat memandangi buku yang masih kosong. Cici melihat kebingunganku. Tanpa ragu, ia mengambil salah satu pena miliknya dan menyerahkannya kepadaku.

“Pakai saja punyaku. Nanti kita kerjakan bersama,” katanya sambil tersenyum.

Mungkin bagi orang lain, meminjamkan sebuah pena bukanlah tindakan besar. Namun, bagiku saat itu, kebaikan sederhana tersebut mempunyai arti mendalam. Cici membuatku merasa tidak sendirian. Ia tidak hanya memberikan pena, tetapi juga memberikan ketenangan ketika aku sedang kebingungan.

Persahabatan kami tentu tidak selalu berjalan tanpa masalah. Kami juga pernah bertengkar hanya karena persoalan kecil. Terkadang kami berbeda pendapat atau saling merasa kesal. Namun, pertengkaran itu tidak pernah berlangsung lama.

Biasanya, salah satu dari kami akan memberanikan diri meminta maaf. Setelah itu, kami kembali bermain bersama seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Anak-anak mungkin mudah bertengkar, tetapi mereka juga mudah memaafkan tanpa menyimpan dendam terlalu lama.

Dari persahabatan tersebut, aku belajar bahwa sahabat bukanlah seseorang yang harus selalu menyetujui semua pendapat kita. Sahabat adalah orang yang bersedia memahami, memaafkan, dan tetap tinggal meskipun pernah terjadi perbedaan.

Waktu terus berjalan. Kami tumbuh dan mulai mempunyai kesibukan masing-masing. Permainan di halaman rumah perlahan digantikan oleh tugas, tanggung jawab, dan berbagai urusan kehidupan. Kini, kami juga tinggal di kota dan daerah yang berbeda sehingga tidak lagi dapat bertemu sesering dahulu.

Jarak memang mengubah kebiasaan kami, tetapi tidak mampu menghapus kenangan yang pernah tercipta. Sarapan sebelum masuk kelas, permainan ketika jam istirahat, sepeda yang kami kayuh bersama, dan sebuah pena yang pernah dipinjamkan masih tersimpan dengan baik dalam ingatanku.

Kini, setiap kali mengenang masa itu, aku selalu tersenyum. Ternyata kebahagiaan masa kecil tidak berasal dari sesuatu yang mahal atau luar biasa. Kebahagiaan dapat hadir melalui permainan sederhana, percakapan di bawah pohon, pertengkaran yang segera berakhir dengan permintaan maaf, dan seorang sahabat yang datang ketika kita membutuhkan bantuan.

Cici bukan hanya teman bermain. Ia merupakan bagian dari masa kecilku, masa ketika kebahagiaan terasa begitu dekat dan persahabatan tumbuh tanpa banyak syarat.

Kami mungkin tidak lagi tinggal di tempat yang sama. Namun, ada persahabatan yang tidak benar-benar hilang hanya karena dipisahkan oleh jarak dan waktu. Ia tetap hidup di dalam kenangan, mengingatkan bahwa pada suatu masa, kami pernah tumbuh dan menemukan kebahagiaan bersama.

Masa kecil memang telah berlalu, tetapi setiap kali mengingat Cici, sebagian dari masa itu seperti kembali pulang. (Red)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version