Opini/ Esai
Oleh: Elga Pendriani
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

Dharmasraya, www.gemaundhari.com-
Menjadi anak pertama memiliki jenis kelelahan yang berbeda. Sejak kecil, kami seperti dibiasakan untuk lebih memahami keadaan, mengalah kepada adik, membantu orang tua, dan menjadi teladan. Lama-kelamaan, semua orang lupa bahwa anak pertama juga seorang anak yang membutuhkan perhatian.

Kalimat “Kamu kan kakak, harus mengalah” terus melekat dalam ingatanku. Ketika berebut mainan, aku yang diminta mengalah. Saat adikku menangis, aku yang disalahkan meskipun belum tentu melakukan kesalahan. Karena terlalu sering mendengarnya, aku akhirnya terbiasa diam dan menyimpan perasaan sendiri.

Bagian terberat dari menjadi anak pertama adalah ketika kita terbiasa menjadi tempat orang lain bersandar, tetapi kebingungan mencari sandaran saat diri sendiri merasa lelah. Ketika adik melakukan kesalahan, aku diminta memaklumi. Saat Mama dan Papa sibuk bekerja, aku harus mengurus diri sendiri. Jika suasana rumah sedang tidak baik, aku memilih diam di kamar karena takut pertanyaanku justru menambah masalah.

Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Namun, keinginan itu selalu terhenti oleh rasa takut. Aku khawatir Mama menjadi kepikiran atau menganggap masalahku berlebihan.

Pada suatu malam, aku merasa sangat lelah. Tugas kuliah menumpuk, tenggat waktu semakin dekat, dan aku baru saja bertengkar dengan teman dekat. Saat sedang menahan air mata, Mama mengetuk pintu lalu masuk.

“Bagaimana kuliahnya? Aman?” tanyanya.

Aku segera merapikan buku, tersenyum, lalu menjawab, “Aman, Ma. Tidak apa-apa. Lancar, kok.”

Setelah Mama keluar, aku langsung menangis di balik selimut. Tidak ada yang mengetahuinya. Keesokan harinya, aku kembali terlihat kuat seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Anak pertama sering dianggap kuat karena jarang mengeluh. Padahal, jarang mengeluh bukan berarti tidak mempunyai masalah. Bisa jadi, ia hanya tidak mengetahui kepada siapa harus bercerita. Bahkan untuk menangis pun terkadang ada rasa malu karena takut dianggap cengeng, manja, atau tidak dewasa.

Menjadi anak pertama sering terasa seperti dipaksa tumbuh lebih cepat. Kami belajar memahami orang tua, mengalah kepada adik, dan menyelesaikan persoalan sendiri. Keadaan tersebut memang membuatku mandiri, tetapi ada sesuatu yang tertinggal: keinginan untuk dipahami.

Lucunya, anak pertama sering menjadi pendengar yang baik. Ketika adik bercerita, kami mendengarkan. Saat orang tua mengeluh tentang pekerjaan, kami berusaha memahami. Ketika teman membutuhkan tempat mencurahkan perasaan, kami menyediakan waktu. Namun, saat kami ingin didengarkan, semua orang menganggap kami pasti baik-baik saja.

Padahal, kami tidak meminta sesuatu yang istimewa. Kami hanya ingin sesekali ditanya bukan tentang adik, tugas kuliah, atau nilai, melainkan tentang diri kami sendiri.

“Kamu lelah, ya?”

“Ada apa?”

“Kalau ingin bercerita, Mama siap mendengarkan.”

Pertanyaan sederhana seperti itu dapat berarti besar bagi seseorang yang telah bertahun-tahun menyimpan semuanya sendirian. Terkadang, kami tidak membutuhkan solusi atau nasihat panjang. Kami hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi.

Keluarga seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Anak pertama juga ingin merasakan hal tersebut. Ia tidak hanya ingin diminta memahami dan menjaga orang lain, tetapi juga berharap sesekali dipahami dan dijaga.

Menjadi anak pertama bukan berarti harus selalu mengalah, mengetahui semua jalan keluar, dan terlihat kuat setiap waktu. Di balik kalimat “Aku bisa sendiri” atau “Aku aman,” mungkin ada seseorang yang sedang mencari tempat untuk bersandar.

Anak pertama juga perlu memahami bahwa menjadi kuat tidak berarti memendam semuanya. Bercerita bukan tanda kelemahan, sedangkan meminta bantuan bukan berarti menjadi beban.

Pada akhirnya, anak pertama tetaplah seorang anak. Ia hanya lahir lebih dahulu. Ia berhak disayangi, didengarkan, dan memiliki tempat untuk pulang tanpa harus berpura-pura kuat. Sebab, orang yang menjadi tempat semua orang bersandar pun dapat merasa lelah dan membutuhkan seseorang untuk menopangnya. (Red)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version