
Oleh: Jenia Sasbela Puspita
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya,
Ada banyak hal yang tidak kupahami ketika masih kecil. Salah satunya adalah mengapa keluarga yang semula terasa lengkap akhirnya berubah. Saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak, aku hanya mengetahui bahwa ayah tidak lagi tinggal bersamaku dan ibu.
Aku belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya merasakan kehilangan seseorang yang seharusnya hadir dalam kehidupanku. Sebagai seorang anak perempuan, kehilangan peran ayah bukanlah sesuatu yang mudah. Ada ruang kosong yang tidak selalu mampu dijelaskan, tetapi terus terasa seiring bertambahnya usia.
Perlahan-lahan, aku mulai memahami bahwa kehidupan keluarga tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Ada orang tua yang memilih berpisah karena berbagai alasan. Namun, menurutku, ketika hubungan suami dan istri berakhir, hubungan mereka dengan anak seharusnya tidak ikut terputus.
Perceraian mungkin mengubah bentuk sebuah keluarga, tetapi tidak menghapus kenyataan bahwa seorang anak tetap membutuhkan kedua orang tuanya. Hubungan antara ayah dan anak seharusnya tetap terjaga meskipun hubungan antara ayah dan ibu tidak lagi sama.
Jujur, menerima keadaan tersebut merupakan salah satu bagian terberat dalam hidupku. Namun, perlahan-lahan aku belajar berdamai. Mungkin inilah takdir yang Allah berikan kepadaku. Barangkali Allah mengetahui bahwa aku mampu bertahan dan menjadi lebih kuat melalui semua pengalaman ini.
Aku adalah anak perempuan satu-satunya. Sejak kecil, aku lebih banyak dibesarkan oleh ibu. Ibulah yang menemaniku, memenuhi kebutuhanku, mendengarkan ceritaku, dan berusaha memastikan bahwa aku tetap merasakan kasih sayang meskipun keadaan keluarga kami telah berubah.
Aku menyaksikan sendiri bagaimana ibu berusaha tetap kuat. Tidak mudah bagi seorang perempuan untuk menjalani begitu banyak tanggung jawab sendirian. Namun, ibu tidak pernah berhenti berusaha agar aku dapat tumbuh dan melanjutkan pendidikan.
Ibu menjadi ayah. Ibu tetap menjadi ibu. Ibu juga menjadi rumah dan hampir segala-galanya bagiku.
Jika boleh berkata jujur, aku hidup dan berjuang terutama untuk ibu. Ayah belum tentu mampu menggantikan peran ibu, tetapi selama ini ibu telah berusaha menjalankan peran keduanya. Ia membuktikan kekuatannya bukan melalui kata-kata, melainkan melalui pengorbanan yang kulihat setiap hari.
Dari pengalaman tersebut, aku memahami bahwa kasih sayang seorang ibu begitu besar dan tidak ternilai. Namun, di sisi lain, aku tetap menyimpan kerinduan kepada ayah. Keberadaan ibu yang luar biasa tidak serta-merta menghapus kebutuhanku terhadap sosok ayah.
Kerinduan itu bukan semata-mata tentang materi. Ada hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh uang, yaitu perhatian, kehadiran, rasa aman, dan kasih sayang. Aku ingin ditanya tentang kabar dan kegiatanku. Aku ingin ceritaku didengarkan. Aku ingin mendapat semangat dari seseorang yang kupanggil ayah.
Akan tetapi, kerinduan tersebut terkadang dianggap sebagai tuntutan yang berlebihan. Ketika untuk pertama kalinya aku menerima nafkah dari ayah, muncul perkataan yang seharusnya tidak perlu kudengar. Perkataan itu membuatku seolah-olah bersalah karena meminta sesuatu yang sebenarnya merupakan hakku sebagai seorang anak.
Aku pun bertanya dalam hati: mengapa seorang anak harus merasa bersalah ketika membutuhkan perhatian dan dukungan dari orang tuanya?
Menurutku, anak tidak seharusnya merasa bahwa dirinya sedang meminta terlalu banyak hanya karena ingin diperhatikan. Bagi seorang anak, hal-hal sederhana seperti ditanya kabarnya, didengarkan ceritanya, atau diberikan semangat dapat memiliki arti yang sangat besar. Bahkan, sebelum berbicara mengenai nafkah, terkadang perhatian sederhana itulah yang paling dirindukan.
Tanggung jawab orang tua kepada anak tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan materi. Nafkah memang penting karena anak memiliki berbagai kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Namun, seorang anak juga membutuhkan pendidikan, kasih sayang, perlindungan, perhatian, dan rasa aman. Semua hal tersebut saling berkaitan dalam proses pertumbuhan dan pembentukan kepribadiannya.
Hal yang paling menyedihkan adalah ketika seorang anak harus berulang kali meminta haknya sendiri. Seharusnya, anak tidak merasa bersalah ketika membutuhkan dukungan dari ayah dan ibunya. Anak tidak pernah meminta dilahirkan dalam keadaan orang tuanya berpisah. Anak juga tidak ikut mengambil keputusan ketika kedua orang tuanya memilih menjalani kehidupan masing-masing.
Aku tidak menulis ini untuk menyalahkan ayah. Aku menyadari bahwa setiap perpisahan memiliki cerita dan alasan yang berbeda. Aku juga tidak mengetahui seluruh persoalan yang pernah terjadi di antara kedua orang tuaku.
Namun, sebagai seorang anak, aku memiliki perasaan dan pengalaman sendiri. Aku pernah merasa kehilangan, bingung, kecewa, dan bertanya-tanya mengapa keluargaku harus mengalami keadaan seperti ini. Perasaan itu nyata meskipun tidak selalu mampu kuungkapkan.
Ketika ayah mulai kembali memberikan perhatian dan dukungan, sebenarnya muncul kebahagiaan dalam diriku. Aku merasa masih memiliki kesempatan untuk memperoleh kasih sayang yang selama ini hilang dan kurindukan. Akan tetapi, pada saat yang sama, muncul ketakutan ketika ada perkataan yang membuatku merasa seolah-olah terlalu banyak meminta.
Bagiku, meminta sesuatu yang menjadi kebutuhan seorang anak bukan berarti tidak tahu diri. Aku hanya ingin merasakan bahwa aku tetap memiliki seorang ayah. Aku ingin memperoleh perhatian tanpa harus merasa bersalah. Aku ingin menerima kasih sayang tanpa berpikir bahwa aku sedang mengambil sesuatu yang bukan menjadi hakku.
Dalam menghadapi keadaan tersebut, aku lebih sering memilih diam. Bukan karena aku tidak mempunyai perasaan atau tidak mampu menjawab perkataan yang melukai hati. Sejak kecil, ibu mengajarkanku untuk menjaga adab dan menghargai orang lain. Karena itu, meskipun terluka, aku berusaha menahan diri dan tetap bersabar.
Tidak semua anak yang terlihat baik-baik saja benar-benar hidup tanpa masalah. Ada anak yang tetap tertawa bersama teman-temannya, pergi ke kampus, belajar, dan menjalani berbagai kegiatan seperti biasa, tetapi menyimpan persoalan yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun.
Aku mungkin terlihat menjalani kehidupan dengan tenang, tetapi ada kerinduan yang selama bertahun-tahun kusimpan sendiri. Ada pertanyaan yang belum memperoleh jawaban dan ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Pengalaman hidup membuatku semakin percaya bahwa kehadiran orang tua sangat penting bagi seorang anak. Jika hubungan antara orang tua dan anak pernah renggang, hubungan tersebut masih dapat diperbaiki secara perlahan. Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Sebuah sapaan, pertanyaan tentang kabar, atau kesediaan untuk mendengarkan dapat menjadi awal yang berarti.
Aku tidak ingin selamanya memandang diriku sebagai anak yang terluka karena kehilangan peran ayah. Aku ingin menjadikan pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa. Mungkin ada banyak hal dari masa lalu yang tidak dapat kuubah, tetapi aku masih dapat menentukan bagaimana menjalani masa depan.
Pada akhirnya, aku tidak membutuhkan keluarga yang sempurna. Aku hanya ingin tetap dicintai sebagai seorang anak. Aku ingin memiliki tempat untuk bercerita, mendapatkan perhatian, dan merasakan bahwa kehadiranku berarti bagi kedua orang tuaku.
Luka tidak selalu membuat seseorang menjadi lemah. Luka juga dapat mengajarkan seseorang untuk lebih menghargai kasih sayang, memahami besarnya perjuangan seorang ibu, dan mensyukuri setiap orang yang memilih untuk tetap hadir.
Aku tidak membenci siapa pun, bahkan mereka yang pernah melukai hatiku. Dari pengalaman itulah aku belajar bertahan. Aku juga ingin berterima kasih kepada diriku sendiri karena telah mampu bertahan hingga hari ini.
Namun, sekuat apa pun aku berusaha, ibu tetaplah sosok yang paling kuat dan hebat dalam kisah hidupku. Terima kasih, Ibu, karena telah bertahan dan menjalani kerasnya kehidupan ini demi anak-anakmu. Aku bangga kepadamu. Engkau adalah rumah, panutan, dan alasan terbesarku untuk terus melangkah.
Aku hanya berharap tidak ada lagi anak yang merasa bersalah karena membutuhkan orang tuanya. Sebab, nafkah, perhatian, kehadiran, dan kasih sayang bukanlah pemberian yang harus dimohon berulang kali. Semua itu adalah hak anak yang semestinya diberikan dengan penuh tanggung jawab dan cinta. (Red)