
Opini/ Esai
Oleh: Laras Fadila
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, www.gemaundhari.com-
“Kalau kuliah jurusan pendidikan, nanti mau jadi apa?” Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi cukup sering menjadi pertanyaan yang membuat mahasiswa pendidikan berpikir panjang. Di tengah masyarakat, jurusan pendidikan masih sering dipandang memiliki satu tujuan utama, yaitu menjadi guru. Seolah-olah setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi, pilihan karier lulusan pendidikan hanya berada di ruang kelas dan berdiri di depan papan tulis. Padahal, pandangan tersebut terlalu sempit untuk menggambarkan kemampuan dan peluang yang dimiliki oleh lulusan pendidikan.
Memang benar bahwa menjadi guru merupakan salah satu pilihan utama bagi lulusan pendidikan. Namun, persoalan muncul ketika jumlah lulusan pendidikan tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja sebagai guru, terutama guru honorer. Tidak sedikit lulusan pendidikan yang akhirnya harus menunggu cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan tetap. Sebagian lainnya memilih menjadi guru honorer dengan beban kerja yang besar, tetapi memperoleh penghasilan yang relatif kecil. Kondisi ini tentu menjadi sebuah persoalan karena seseorang telah menempuh pendidikan tinggi bertahun-tahun, tetapi setelah lulus masih harus menghadapi ketidakpastian pekerjaan dan kesejahteraan.
Masalah tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa kuliah di jurusan pendidikan kurang menjanjikan. Bahkan, tidak jarang mahasiswa pendidikan mendapatkan pertanyaan seperti, “Memangnya setelah lulus bisa kerja di mana selain jadi guru?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa masih banyak orang yang belum memahami bahwa ilmu pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar. Selama kuliah, mahasiswa pendidikan sebenarnya mempelajari berbagai kemampuan, seperti komunikasi, pengelolaan kelas, penyusunan materi, pengembangan media pembelajaran, evaluasi, penelitian, kerja sama, kepemimpinan, hingga kemampuan memahami karakter dan kebutuhan seseorang.
Menurut saya, kemampuan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang pekerjaan. Lulusan pendidikan dapat mengembangkan karier sebagai pengembang bahan ajar, tutor, instruktur, penulis atau editor bahan pembelajaran, pengembang media pembelajaran, tenaga pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, pengelola lembaga pendidikan, hingga bekerja di bidang yang berkaitan dengan teknologi pendidikan. Perkembangan teknologi juga membuka peluang baru melalui pembelajaran digital, pembuatan konten edukasi, platform pendidikan, dan berbagai bentuk pekerjaan kreatif yang membutuhkan kemampuan komunikasi serta pemahaman tentang proses belajar.
Karena itu, persoalannya bukan semata-mata tentang “jurusan pendidikan bisa kerja apa”, tetapi bagaimana lulusan pendidikan mampu melihat dan mengembangkan kompetensinya. Mahasiswa pendidikan tidak seharusnya hanya mempersiapkan diri untuk menjadi guru, tetapi juga perlu membangun keterampilan lain yang relevan dengan perkembangan zaman. Kemampuan menggunakan teknologi, membuat konten, berkomunikasi, menulis, melakukan penelitian, serta beradaptasi dengan dunia kerja dapat menjadi modal penting setelah lulus.
Di sisi lain, persoalan kesejahteraan guru juga tidak boleh dianggap sebagai alasan untuk merendahkan profesi guru. Guru memiliki peran penting dalam membentuk kualitas generasi berikutnya. Justru, kondisi ketika guru honorer menerima penghasilan yang kecil perlu menjadi perhatian bersama. Pendidikan yang berkualitas sulit diwujudkan apabila orang-orang yang menjalankan proses pendidikan belum mendapatkan penghargaan dan kesejahteraan yang memadai.
Pada akhirnya, kuliah di jurusan pendidikan bukan berarti seseorang hanya memiliki satu jalan menuju profesi guru. Menjadi guru adalah salah satu pilihan, bukan satu-satunya pilihan. Lulusan pendidikan memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan ke berbagai bidang selama mereka mau memperluas keterampilan dan tidak membatasi diri pada pekerjaan yang bersifat konvensional.
Jadi, ketika seseorang bertanya, “Kuliah jurusan pendidikan, mau jadi apa?”, jawabannya tidak harus selalu “jadi guru”. Lulusan pendidikan dapat menjadi banyak hal, selama ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama kuliah mampu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan zaman. Yang terpenting bukan hanya jurusan apa yang kita pilih, tetapi bagaimana kita mengubah ilmu dari jurusan tersebut menjadi kemampuan yang memiliki nilai dan manfaat di dunia kerja maupun di masyarakat. (Red)