
Oleh: Siti Rofi’atussa’adah
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, www.gemaundhari.com-
Menjalani hidup yang penuh pengejaran memang melelahkan. Namun, untuk apa hidup jika tidak melakukan apa-apa? Kalimat itulah yang selalu membuatku bangkit ketika merasa lelah dan ingin menyerah. Bahkan, sekadar mengingat orang tua sudah cukup menjadi bahan bakar bagiku untuk terus melangkah.
Usiaku baru dua puluh tahun. Aku sadar bahwa perjalanan hidup masih panjang dan tidak ada seorang pun yang dapat menjamin semuanya akan berjalan mulus. Akan selalu ada kejadian tidak terduga, rintangan, dan ujian dari Tuhan Yang Maha Kuasa.
Meskipun demikian, aku percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Dia tidak memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Di tengah kesulitan, selalu ada kemudahan, meskipun terkadang kemudahan itu baru terlihat setelah kita bersabar cukup lama.
Inilah secuil kisahku sebagai anak pertama sekaligus kakak perempuan yang merasa belum mampu berbuat banyak untuk keluarga.
Menurut tetangga, aku adalah anak yang baik. Menurut teman-teman, aku dikenal pendiam. Sementara itu, orang tuaku selalu berkata, “Terserah kamu kelak ingin menjadi apa dan bekerja sebagai apa. Yang penting pekerjaannya halal. Untuk sekarang, sekolah yang benar dan rajin.”
Kalimat itu terdengar sederhana dan menenangkan. Orang tuaku seolah-olah tidak memberikan tuntutan apa pun. Mereka menyerahkan pilihan masa depan kepadaku dan memercayai bahwa aku mampu menentukan jalan sendiri.
Namun, justru kepercayaan itulah yang diam-diam berubah menjadi tekanan.
Mereka tidak meminta banyak, tetapi aku takut gagal memenuhi harapan yang tidak pernah diucapkan. Aku takut suatu hari justru mengecewakan dan melukai mereka. Aku merasa harus membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadaku tidak salah.
Konon, pundak anak pertama harus selalu kuat dan tegak. Namun, benarkah anak sulung tidak boleh merasa takut dan lelah?
Aku juga manusia yang masih memiliki banyak kekurangan. Aku sering merasa cemas dan tidak mengetahui keputusan terbaik yang harus diambil. Sikapku yang diam bukan berarti tidak peduli terhadap keadaan keluarga. Justru di balik diam itu, ada banyak pikiran yang bercabang dan kekhawatiran yang tidak mampu kuungkapkan.
Pada tahap kehidupan ini, hal utama yang dapat kulakukan hanyalah belajar dengan sungguh-sungguh. Namun, terkadang usaha tersebut terasa belum cukup ketika mengetahui keadaan orang tua yang tidak selalu baik-baik saja.
Saat menelepon dari perantauan, ibu sering menceritakan berbagai persoalan: keadaan ekonomi, rasa lelah, dan persoalan keluarga. Aku mendengarkan semuanya karena memahami bahwa ibu juga membutuhkan tempat untuk bercerita.
Namun, tanpa disadari, setiap cerita itu ikut tinggal di kepalaku. Ketika pulang ke rumah, aku terkadang tidak merasa sedang kembali ke tempat untuk beristirahat. Ada tanggung jawab lain yang seolah-olah telah menunggu.
Aku memahami bahwa ibu menyimpan harapan besar kepadaku. Bukankah setiap orang tua ingin melihat anaknya berhasil, terlebih ketika keadaan ekonomi keluarga sedang tidak baik-baik saja? Aku tidak menyalahkan harapan itu. Aku hanya takut tidak mampu mewujudkannya secepat yang mereka butuhkan.
Selain sebagai anak pertama, aku juga menjalani peran sebagai kakak perempuan. Aku masih belajar menjadi kakak yang baik bagi adikku.
Dahulu, aku merasa kesal ketika adik selalu mengikutiku ke mana-mana. Aku juga tidak suka ketika kesalahan yang tidak kulakukan justru dibebankan kepadaku hanya karena aku lebih tua. Namun, seiring bertambahnya usia, aku mulai memahami peranku sebagai kakak.
Ketika adikku dimarahi ibu, naluriku untuk melindunginya muncul. Aku ingin ia tetap ceria dan menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak lainnya. Aku berharap kehidupannya kelak lebih baik daripada kehidupanku.
Suatu hari nanti, aku ingin ikut mendukung pendidikannya. Aku ingin membantu adikku belajar dan, jika Tuhan mengizinkan, membantunya berkuliah di kampus impiannya. Keinginan itu menjadi salah satu alasan bagiku untuk terus berusaha.
Selain ibu dan adik, ada bapak—cinta pertama bagi anak perempuannya. Ia selalu terlihat kuat dan terkadang terkesan cuek. Namun, dalam diamnya, aku mengetahui bahwa bapak menyimpan begitu banyak beban.
Setiap orang memiliki beban, ujian, dan luka yang berbeda. Semuanya tidak dapat dibandingkan karena masing-masing manusia mempunyai kemampuan dan cara tersendiri dalam menghadapinya.
Bapak adalah orang yang paling mudah kuajak berbicara. Aku sering melihatnya duduk sendirian di teras sambil menyesap secangkir kopi. Sebelum adikku lahir, bapaklah yang paling sering memanjakanku.
Kata-katanya masih mampu menenangkan dan memeluk perasaanku hingga saat ini. Namun, raganya hampir tidak pernah benar-benar memelukku ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Mungkin begitulah caranya menunjukkan kasih sayang: tidak banyak melalui sentuhan, tetapi hadir lewat perhatian dan pembelaan.
Masa kecilku tidak selalu dipenuhi kelembutan. Di rumah, percakapan sering disampaikan dengan suara keras. Kesalahan kecil dapat mendatangkan bentakan, sedangkan kesalahan yang dianggap besar terkadang disertai cubitan.
Orang-orang di sekitarku mengenalku sebagai anak pendiam dan santun. Namun, aku kerap merasa diperlakukan seperti anak yang nakal. Kini, pola yang sama kadang terlihat dalam perlakuan terhadap adikku.
Aku memahami bahwa adikku adalah anak laki-laki yang mempunyai tingkah berbeda. Namun, ketika ia menerima kemarahan yang mengingatkanku pada pengalaman masa kecil, muncul keinginan untuk berdiri di depannya dan melindunginya. Aku tidak ingin ia menyimpan ketakutan yang sama seperti yang pernah kurasakan.
Meskipun demikian, aku tidak ingin hanya mengingat sisi buruk orang tuaku.
Maaf, Ibu, jika terkadang aku terlalu berfokus pada hal-hal yang melukaiku hingga melupakan betapa luar biasanya perjuanganmu. Engkau adalah satu-satunya ibu yang kumiliki. Kekuatanmu bahkan melebihi pahlawan mana pun dalam pandanganku.
Mungkin selama ini ibu belum menemukan cara yang lebih lembut untuk menyampaikan kasih sayang. Aku dapat berusaha memahami latar belakangnya, meskipun itu tidak berarti bahwa bentakan dan perlakuan menyakitkan harus dianggap wajar atau diteruskan.
Bapak juga sosok yang luar biasa. Usahanya bekerja dan menyekolahkanku hingga jenjang ini layak kuhargai. Ibu dan bapak merupakan orang yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun dalam kehidupanku.
Aku menyadari bahwa mereka pun sedang belajar menjadi orang tua. Menjadi orang tua adalah perjalanan yang panjang dan tidak selalu mudah. Namun, seperti anak yang belajar memahami orang tuanya, orang tua juga perlu belajar mendengarkan perasaan anaknya.
Memahami kekurangan orang tua bukan berarti meniadakan luka yang pernah dirasakan. Memaafkan bukan berarti membenarkan semua perlakuan. Bagiku, keduanya adalah cara untuk menerima masa lalu tanpa membiarkannya menguasai masa depan.
Setiap manusia memiliki kisah yang berbeda. Anak pertama, anak tengah, anak bungsu, dan anak tunggal mempunyai pengalaman masing-masing. Bahkan, kisah seorang anak sulung tidak dapat disamakan dengan kisah anak sulung lainnya karena setiap keluarga hidup dalam keadaan yang berbeda.
Karena itu, luka tidak perlu diperlombakan. Tidak ada peringkat untuk menentukan siapa yang paling pantas merasa sedih. Setiap perasaan layak didengarkan, sedangkan setiap perjuangan pantas dihargai.
Aku memang anak pertama, tetapi bukan berarti harus selalu kuat. Aku boleh lelah, takut, dan meminta bantuan. Aku tidak harus menanggung seluruh persoalan keluarga seorang diri.
Pada akhirnya, aku menyadari bahwa rasa takut mengecewakan orang tua lahir dari besarnya rasa sayangku kepada mereka. Namun, aku juga perlu belajar bahwa membahagiakan keluarga bukan berarti harus kehilangan diriku sendiri.
Orang tuaku tidak pernah meminta banyak. Mereka hanya memintaku belajar dengan baik dan memilih jalan hidup yang benar. Kini, tugasku bukan menjalani hidup dalam ketakutan akan mengecewakan mereka, melainkan menggunakan kepercayaan itu untuk bertumbuh, berusaha, dan menentukan masa depan dengan penuh tanggung jawab. (Red)