Dharmasraya, www.bhinnekanews71.com
Oleh: Anggit Datti Candra
Mahasiswa S-1 Program Studi Manajemen FHEB UNDHARI

Takdir, banyak orang menjalani hidup sebagai penonton yang menunggu nasibnya datang kepada dirinya. Kehidupan yang aku alami selama ini sudah banyak memberikan kesan yang amat begitu
mendalam, banyak hal membuatku begitu ingin tahu apapun itu, sekecil apapun itu ingin aku pelajari. Dan pada ahirnya saya ingin mencoba hal baru yang menurut saya menarik dengan mencoba, berusaha, dan menekuninya saya mampu
menciptakan hobi baru yang membuat saya sangat menyukainya. Orang yang tidak mengerti hal ini mereka itu seperti hal nya kanvas kosong yang tidak tahu apa yang ingin di ciptakan untuk sebuah mahakarya.

Namun, pribadi yang luar biasa ini memberanikan diri untuk mengambil keputusan dan kuas lukis dan mulai membuat sebuah mahakarya pertama saya dengan tujuan, menggariskan batasan, dan mewarnai impian dengan kerja keras dan ketegasan yang kuat. Dan ketika saya gagal saya tidak menyalahkan kuas atau pun pensil, melainkan diri sendiri dan berkeyakinan bahwa saya harus memperbaiki kesalahan dan pada ahirnya saya belajar dari kesalahan saya agar dapat menciptakan sebuah lukisan yang indah agar di akui banyak orang.

Saya mulai mempelajari banyak hal dari tekniknya, makna dari lukisan, cara membuat sebuah garis yang bagus, lingkaran, persegi, dan lain lain. Saya mulai belajar berbagai hal tentang apa itu lukisan keindahan? sebuah lukisan begitu banyak hal telah saya coba di berbagai media saya terapkan untuk menghasilkan sebuah lukisan baik itu di kertas, kanvas, papan, sepanduk, dan dinding.

Dari bangku sekolah dasar saya telah menekuni hobi saya yaitu melukis sampai akhirnya saya didaftarkan ke pondok pesantren Nurul Huda Mandiangin Sarolangun. Orang tua saya ingin agar saya mendapatkan pendidikan yang baik dan mampu membuat saya menjadi anak yang bisa berguna di masyarakat, saat saya di pondok saya kembali mengasah ilmu agama, akademik, dan saya juga mengikuti estrakulikuler yang ada di pondok pesantren dari MTS sampai SMK saya juga menekuni hobi saya dengan belajar dasar-dasar dari mempelajari cara membuat kaligrafi dan mural yang saya dapat dari guru seni lukis yang ada di pondok pesantren.

Di pondok pesantren sering mengadakan acara yang besar dan saya ikut berpatisipasi untuk ikut andil menjadi seorang panitia dan saya selalu mendapatkan tugas untuk bertanggung jawab untuk dekorasi di kegiatan ini saya ditugaskan untuk membuat sebuah lukisan. Semua acara yang kami gelar selalu mementingkan dekorasi dan sistem dan teknis acara apa lagi setiap 3 bulan sekali pondok mengadakan acara Muhadoroh Kubro yang diselenggarakan dipanggung husus dan setiap acara memerlukan panitia yang membantu menyelengarakan acara itu yaitu para santriwan dan santriwati kami membentuk penanggung jawab untuk masing- masing acara dan saya mendapatkan tugas di dekorasi. Di dekorasi saya selalu memberikan sebuah ide-ide baru yang saya ingin saya terapkan. Ketika telah disetujui oleh ketua acara saya mulai membuat semuanya dengan bantuan anggota yang lain saya memandu mereka apa yang harus dibuat agar tidak ada kesalahan, meskipun banyak cobaan dan kesalahan sekecil apapun itu saya tidak mempermasalahkannya saya mencoba dan terus mencoba.

Agar acara dapat dapat berlangsung dengan baik dan sukses saya mulai membuat desain panggung dari membuat background panggung yang terbuat dari papan triplek yang saya bentuk menjadi sebuah karya seni menggunakan pisau kater dan membuat bentuk lingkaran, batik, batu bata, dinding candi, kubah masjid, bunga, dan lain-lain. Dan saya mulai menghiasnya dengan cat dengan memadukan warna yang seimbang agar menciptakan kesan yang indah dan mirip seperti aslinya. Ketika saya tidak ada kegiatan saya biasanya selalu menggambar animasi kartun, tulisan, dan kaligrafi.

Saya pernah berjualan lukisan di pondok Ketika para santri baru masuk biasanya mereka yang melihat saya menggambar mereka langsung meminta untuk dibuatkan lukisan untuk mereka baik itu tugas sekolah, animasi, kartun anak-anak, dan juga nama mereka. Mereka pun bersedia membayar, biasanya saya menjual gambaran saya dengan harga Rp. 5.000 untuk satu gambar. Sudah hampir satu tahun saya melakukan hal tersebut dan pada akhirnya tidak ada lagi yang ingin dibuatkan lukisan tapi saya tidak mempermasalahkan hal itu karena saya masih bisa melalukannya sendiri karna itu hobi saya.

Ketika saya sudah kls 3 SMK saya dan teman-teman harus melaksanakan PL selama 2 bulan ke desa-desa, di desa itu kami disambut baik dengan kedatangan kami saat kami memulai sosialisai ke sebuah sekolah dasar yang ada di desa itu kami berbincang dengan ibu kepala sekolah tentang apa saja yang bisa kami bantu selama magang. Kepala sekolah itu menjawab apakah kalian bisa membantu untuk mengecat mushollah yang ada di SD seketika itu teman saya langsung bilang kepada kepala sekolah bahwa saya bisa membuat lukisan kaligrafi untuk hiasan di mushollah, ibu kepala sekolah menyetujuinya dan membelikan bahan bahan yang akan di butuhkan.

Setiap malam kami bekerja untuk menyelesaikan Amanah yang telah di berikan kepada kami saya mulai membuat seketsa lukisan di dinding saya membuat bentuk ka’bah dan ayat ayat suci Al-Qur’an, setelah beberapa minggu ahirnya selesai dan ibu kepala sekolah puas dengan apa yang telah kami buat, beliau berterimakasih dan memberikan kami salam perpisahan dengan menyelangarakan acara makan bersama untuk mengucapkan terima kasih kapada kami dan memberikan kami sebuah hadiah sebuah baju dan sarung. Setelah 2 bulan berlalu magang kami ahirnya selesai dan kami kembali ke pondok.

Di saat penghujung kelulusan saya mendapatkan tugas dari pimpinan pondok untuk membuat mural di dinding luar pondok dengan tema mural ranti bisa menjadi apapun. Maka dari itu saya membuat lukisan seorang polisi, kyai, tentara, manejer, presiden, dan petani. Di percobaan pertama memang sulit tapi saya terus berusaha agar karya ini bisa membuat pimpinan pondok senang dengan apa yang saya buat untuk pondoknya karena tidak setiap waktu saya mengerjakannya memakan waktu yang lama untuk menyelesaikannya setelah 1 bulan berlalu akhirnya mural nya jadi pimpinan pondok merasa senang dan memberikan saya uang jajan atas kerja keras saya dan karya saya dapat dilihat banyak orang.

Tapi saya masih belum puas hanya dengan kemampuan sekarang saya masih ingin mengasah kemampuan saya agar saya dapat menciptakan sebuah mahakarya yang sangat indah. Tapi saya menyadari bahwa takdir saya yang di awali dengan hanya sebuah hobi bisa bermanfaat untuk orang lain dan saya sangat bersyukur dengan semua itu karna itu semua sudah di takdir dari Allah swt saya sangat berterimakasih karna sudah di berikan kemampuan yang begitu jarang dimiliki oleh orang lain Disitulah saya sadar bahwa takdir saya adalah untuk menjadi seniman lukis yang sejati. (Red)

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version