Close Menu

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Bahasa Gaul: Kreativitas atau Ancaman bagi Bahasa Indonesia?

    30 September 2026

    Anak Pertama Hanya Lahir Lebih Dulu

    30 September 2026

    AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Berpikir

    30 September 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    Gema Undhari
    Subscribe Now
    • Home
    • Berita

      Lomba Manjujai Bergema di Dharmasraya, Rumah Baca Marenda Hidupkan Kembali Dendang Kasih Warisan Budaya

      28 September 2026

      Bank Nagari Goes to Campus UNDHARI, Dorong Mahasiswa Makin Cakap Kelola Keuangan

      25 September 2026

      Bank Nagari Goes to Campus UNDHARI, Dorong Mahasiswa Makin Cakap Kelola Keuangan

      25 September 2026

      Menggerakkan Mahasiswa, Memperluas Literasi: Inovasi “Relima Goes To Campus” Amar Salahuddin Tumbuh dari Undhari

      19 September 2026

      DPD RI dan LLDIKTI Wilayah X Apresiasi UNDHARI pada Wisuda ke-18, 662 Lulusan Dikukuhkan

      12 September 2026
    • Features
    • Ormawa
    • Opini
    • aspirasi
    • Contact
    Gema Undhari
    Home » Anak Pertama Hanya Lahir Lebih Dulu
    Opini

    Anak Pertama Hanya Lahir Lebih Dulu

    adminBy admin30 September 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
    Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    Share
    Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

    Opini/ Esai
    Oleh: Elga Pendriani
    Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI

    Dharmasraya, www.gemaundhari.com-
    Menjadi anak pertama memiliki jenis kelelahan yang berbeda. Sejak kecil, kami seperti dibiasakan untuk lebih memahami keadaan, mengalah kepada adik, membantu orang tua, dan menjadi teladan. Lama-kelamaan, semua orang lupa bahwa anak pertama juga seorang anak yang membutuhkan perhatian.

    Kalimat “Kamu kan kakak, harus mengalah” terus melekat dalam ingatanku. Ketika berebut mainan, aku yang diminta mengalah. Saat adikku menangis, aku yang disalahkan meskipun belum tentu melakukan kesalahan. Karena terlalu sering mendengarnya, aku akhirnya terbiasa diam dan menyimpan perasaan sendiri.

    Bagian terberat dari menjadi anak pertama adalah ketika kita terbiasa menjadi tempat orang lain bersandar, tetapi kebingungan mencari sandaran saat diri sendiri merasa lelah. Ketika adik melakukan kesalahan, aku diminta memaklumi. Saat Mama dan Papa sibuk bekerja, aku harus mengurus diri sendiri. Jika suasana rumah sedang tidak baik, aku memilih diam di kamar karena takut pertanyaanku justru menambah masalah.

    Sebenarnya, ada banyak hal yang ingin kuceritakan. Namun, keinginan itu selalu terhenti oleh rasa takut. Aku khawatir Mama menjadi kepikiran atau menganggap masalahku berlebihan.

    Pada suatu malam, aku merasa sangat lelah. Tugas kuliah menumpuk, tenggat waktu semakin dekat, dan aku baru saja bertengkar dengan teman dekat. Saat sedang menahan air mata, Mama mengetuk pintu lalu masuk.

    “Bagaimana kuliahnya? Aman?” tanyanya.

    Aku segera merapikan buku, tersenyum, lalu menjawab, “Aman, Ma. Tidak apa-apa. Lancar, kok.”

    Setelah Mama keluar, aku langsung menangis di balik selimut. Tidak ada yang mengetahuinya. Keesokan harinya, aku kembali terlihat kuat seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

    Anak pertama sering dianggap kuat karena jarang mengeluh. Padahal, jarang mengeluh bukan berarti tidak mempunyai masalah. Bisa jadi, ia hanya tidak mengetahui kepada siapa harus bercerita. Bahkan untuk menangis pun terkadang ada rasa malu karena takut dianggap cengeng, manja, atau tidak dewasa.

    Menjadi anak pertama sering terasa seperti dipaksa tumbuh lebih cepat. Kami belajar memahami orang tua, mengalah kepada adik, dan menyelesaikan persoalan sendiri. Keadaan tersebut memang membuatku mandiri, tetapi ada sesuatu yang tertinggal: keinginan untuk dipahami.

    Lucunya, anak pertama sering menjadi pendengar yang baik. Ketika adik bercerita, kami mendengarkan. Saat orang tua mengeluh tentang pekerjaan, kami berusaha memahami. Ketika teman membutuhkan tempat mencurahkan perasaan, kami menyediakan waktu. Namun, saat kami ingin didengarkan, semua orang menganggap kami pasti baik-baik saja.

    Padahal, kami tidak meminta sesuatu yang istimewa. Kami hanya ingin sesekali ditanya bukan tentang adik, tugas kuliah, atau nilai, melainkan tentang diri kami sendiri.

    “Kamu lelah, ya?”

    “Ada apa?”

    “Kalau ingin bercerita, Mama siap mendengarkan.”

    Pertanyaan sederhana seperti itu dapat berarti besar bagi seseorang yang telah bertahun-tahun menyimpan semuanya sendirian. Terkadang, kami tidak membutuhkan solusi atau nasihat panjang. Kami hanya ingin didengarkan tanpa dihakimi.

    Keluarga seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Anak pertama juga ingin merasakan hal tersebut. Ia tidak hanya ingin diminta memahami dan menjaga orang lain, tetapi juga berharap sesekali dipahami dan dijaga.

    Menjadi anak pertama bukan berarti harus selalu mengalah, mengetahui semua jalan keluar, dan terlihat kuat setiap waktu. Di balik kalimat “Aku bisa sendiri” atau “Aku aman,” mungkin ada seseorang yang sedang mencari tempat untuk bersandar.

    Anak pertama juga perlu memahami bahwa menjadi kuat tidak berarti memendam semuanya. Bercerita bukan tanda kelemahan, sedangkan meminta bantuan bukan berarti menjadi beban.

    Pada akhirnya, anak pertama tetaplah seorang anak. Ia hanya lahir lebih dahulu. Ia berhak disayangi, didengarkan, dan memiliki tempat untuk pulang tanpa harus berpura-pura kuat. Sebab, orang yang menjadi tempat semua orang bersandar pun dapat merasa lelah dan membutuhkan seseorang untuk menopangnya. (Red)

    #gemaundhari #undhari
    Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
    admin
    • Website

    Related Posts

    Bahasa Gaul: Kreativitas atau Ancaman bagi Bahasa Indonesia?

    30 September 2026

    AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Berpikir

    30 September 2026

    Kuliah Jurusan Pendidikan, Mau Jadi Apa?

    30 September 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Demo
    Our Picks

    Noise-Cancelling Headphones For a Superb Music Experience

    15 Januari 2020

    Harry Potter: 10 Things Dursleys That Make No Sense

    15 Januari 2020

    Dubai-Based Yacht Company is Offering Socially-Distanced Luxury

    15 Januari 2020

    The Courier – a New Song with Benedict Cumberbatch

    14 Januari 2020
    Don't Miss

    Bahasa Gaul: Kreativitas atau Ancaman bagi Bahasa Indonesia?

    By admin30 September 20260

    Opini/ EsaiOleh: Anida Sisi YaniMahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI Dharmasraya, www.gemaundhari.com-Bahasa merupakan sarana…

    Anak Pertama Hanya Lahir Lebih Dulu

    30 September 2026

    AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Berpikir

    30 September 2026

    Kuliah Jurusan Pendidikan, Mau Jadi Apa?

    30 September 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    Top Posts

    UKM Pramuka Racana Dara Jingga UNDHARI Sukses Gelar Musyawarah Racana

    12 Januari 2026151 Views

    Dies Natalis FIKES UNDHARI 2026 Tekankan Kompetensi dan Profesionalisme Tenaga Kesehatan

    19 April 2026148 Views

    UNDHARI Goes to School Gema di SMAN 2 Tebo, Siswa Kelas XII Antusias Ikuti Sosialisasi Kampus Berkualitas

    15 Januari 2026132 Views

    BEM FIKES Undhari Gelar Acara Keakraban Keluarga, Perkuat Solidaritas dan Gaya Hidup Sehat

    11 Januari 2026126 Views
    Don't Miss

    Bahasa Gaul: Kreativitas atau Ancaman bagi Bahasa Indonesia?

    By admin30 September 20260

    Opini/ EsaiOleh: Anida Sisi YaniMahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI Dharmasraya, www.gemaundhari.com-Bahasa merupakan sarana…

    Anak Pertama Hanya Lahir Lebih Dulu

    30 September 2026

    AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Berpikir

    30 September 2026

    Kuliah Jurusan Pendidikan, Mau Jadi Apa?

    30 September 2026
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Pinterest
    • Instagram
    • YouTube
    • Vimeo

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from SmartMag about art & design.

    Demo
    About Us
    About Us

    Your source for the lifestyle news. This demo is crafted specifically to exhibit the use of the theme as a lifestyle site. Visit our main page for more demos.

    We're accepting new partnerships right now.

    Email Us: info@example.com
    Contact: +1-320-0123-451

    Facebook X (Twitter) Pinterest YouTube WhatsApp
    Our Picks

    Bahasa Gaul: Kreativitas atau Ancaman bagi Bahasa Indonesia?

    30 September 2026

    Anak Pertama Hanya Lahir Lebih Dulu

    30 September 2026

    AI Sebagai Alat, Bukan Pengganti Berpikir

    30 September 2026
    Most Popular

    Wall Tapestries: Add Charm to Bare Walls With Hangings

    13 Januari 20210 Views

    Cutest Pet of the Week: ‘Noodle’ the Syrian Hamster

    14 Januari 20210 Views

    Samsung is Developing Bright MicroLED on Displays for AR Headsets

    14 Januari 20210 Views
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
    • Home
    • Buy Now
    © 2026 ThemeSphere. Designed by ThemeSphere.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.