
Opini/ Esai
Oleh: Vita Putri
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, www.gemaundhari.com-
Dalam beberapa tahun terakhir, kecerdasan buatan atau AI berkembang sangat cepat dan mulai masuk ke kehidupan sehari-hari. Di Indonesia, banyak mahasiswa kini memakainya untuk mencari ide, merangkum bacaan, menerjemahkan, bahkan menyusun tugas. Kemudahan ini menarik, tetapi juga menimbulkan pertanyaan penting. Menurut saya, AI boleh dan sebaiknya dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi tidak boleh menggantikan proses berpikir kita sendiri.
Manfaat AI memang nyata. Ia dapat menjelaskan konsep sulit dengan bahasa yang lebih sederhana, membantu memeriksa tata bahasa, dan mempercepat pekerjaan yang bersifat rutin. Bagi mahasiswa yang kesulitan mengakses sumber belajar, AI bisa menjadi pendamping yang tersedia kapan saja. Jika digunakan dengan benar, waktu yang semula habis untuk pekerjaan teknis dapat dialihkan untuk hal yang lebih bermakna, seperti menganalisis dan berdiskusi.
Namun mengapa penggunaan AI perlu dibatasi oleh kesadaran penggunanya? Pertama, kemampuan berpikir kritis tumbuh melalui proses bergulat dengan masalah. Bila setiap
kesulitan langsung diserahkan kepada AI, otot berpikir kita tidak terlatih. Kedua, AI dapat keliru dan menyajikan informasi yang salah dengan nada yang sangat meyakinkan.
Pengguna yang tidak memeriksa ulang berisiko menyebarkan kesalahan. Ketiga, tugas yang dikerjakan seluruhnya oleh AI tidak mencerminkan kemampuan sebenarnya, sehingga mahasiswa hanya memperoleh nilai tanpa memperoleh pemahaman.
Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini? Mahasiswa tentu yang pertama, karena merekalah yang memutuskan bagaimana memakai alat tersebut. Namun dosen dan kampus juga memegang peran penting. Banyak institusi belum memiliki pedoman yang jelas tentang batas penggunaan AI dalam tugas dan penelitian.
Ketidakjelasan ini membuat mahasiswa bingung, sementara dosen kesulitan membedakan karya asli dari hasil buatan mesin. Pengembang teknologi dan pemerintah pun perlu ikut serta melalui transparansi dan aturan yang melindungi pengguna.
Bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Langkah pertama adalah literasi AI, yaitu pemahaman tentang cara kerja, kelebihan, dan keterbatasan teknologi ini. Mahasiswa perlu dibiasakan untuk memeriksa sumber, membandingkan jawaban, dan mengakui secara terbuka ketika AI digunakan. Langkah kedua adalah aturan yang jelas di tingkat kampus, misalnya tentang tugas mana yang boleh dibantu AI dan mana yang tidak, serta cara mencantumkan penggunaannya.
Cara menilai juga perlu menyesuaikan diri. Bila tugas hanya berupa esai yang bisa dibuat dalam hitungan detik oleh mesin, maka tugas itu tidak lagi mengukur kemampuan mahasiswa. Dosen dapat menambahkan presentasi lisan, diskusi, proyek berbasis pengalaman, atau penjelasan proses berpikir. Dengan begitu, AI tetap boleh membantu, tetapi pemahaman mahasiswa tetap teruji.
Tentu ada yang berpendapat bahwa membatasi AI justru menghambat kemajuan, karena dunia kerja pun sudah memanfaatkannya. Pendapat ini ada benarnya.
Kemampuan menggunakan AI kini menjadi keterampilan yang berharga. Akan tetapi, yang dicari dunia kerja bukan orang yang hanya bisa menekan tombol, melainkan orang yang mampu menilai hasil AI, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atasnya. Kemampuan itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah terlatih berpikir sendiri.
Persoalan lain adalah kesenjangan akses. Tidak semua mahasiswa memiliki perangkat dan koneksi yang sama untuk memakai teknologi ini.
Jika kampus mengandalkan AI tanpa memperhatikan hal tersebut, mahasiswa yang sudah tertinggal akan semakin tertinggal. Pemerataan akses dan pelatihan menjadi bagian dari tanggung jawab agar manfaat AI dapat dirasakan secara adil.
Pada akhirnya, AI adalah alat, dan nilainya ditentukan oleh cara kita memakainya.
Indonesia, terutama dunia pendidikan tingginya, perlu segera membangun budaya penggunaan AI yang cerdas, jujur, dan bertanggung jawab melalui literasi, aturan yang jelas, dan penilaian yang relevan. Ketika manusia tetap memegang kendali atas cara berpikirnya, AI menjadi mitra yang memperkuat, bukan pengganti yang melemahkan. (Red)