
Opini/ Esai
Oleh: Amelisa Olimpia
Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Menjadi anak bungsu sering dianggap sebagai posisi paling menyenangkan dalam keluarga. Anak bungsu biasanya dipandang sebagai anak yang paling manja, paling disayang, dan selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang tua.
Namun, tidak demikian denganku.
Bagiku, menjadi anak bungsu berarti belajar menjadi kuat tanpa pernah benar-benar diajarkan bagaimana caranya. Aku tumbuh bersama berbagai harapan yang harus dipenuhi, kecemasan terhadap masa depan, dan ketakutan bahwa waktu tidak akan memberiku cukup kesempatan untuk membalas pengorbanan orang tua.
Keluargaku sering menginginkanku menjadi seperti yang mereka harapkan. Mereka telah mempunyai gambaran tentang pendidikan, masa depan, dan kehidupan yang seharusnya kujalani. Namun, tidak banyak yang bertanya apakah aku sanggup memenuhi semua harapan tersebut.
Mungkin mereka bersikap demikian karena menginginkan yang terbaik untukku. Aku memahami bahwa di balik setiap tuntutan terdapat kasih sayang dan harapan besar. Namun, sesekali aku ingin mendengar mereka bertanya, “Apakah kamu sanggup?” atau “Sebenarnya, apa yang kamu inginkan?”
Pertanyaan sederhana itu mungkin tidak langsung menyelesaikan persoalan, tetapi setidaknya dapat membuatku merasa didengarkan.
Aku juga manusia yang dapat merasa lelah, takut, bingung, dan kecewa. Aku tidak selalu mengetahui arah yang harus ditempuh. Ada kalanya aku membutuhkan tempat untuk bercerita tanpa khawatir akan dinilai lemah atau dianggap terlalu banyak mengeluh.
Aku tidak dapat menjadi orang lain, begitu pula orang lain tidak dapat sepenuhnya menjadi diriku. Setiap orang memiliki kemampuan, keinginan, dan batas yang berbeda. Karena itu, sesuatu yang dianggap mudah oleh orang lain belum tentu terasa ringan bagiku.
Sebagai anak bungsu, aku juga menyimpan ketakutan besar terhadap masa depan. Aku takut tidak mampu mewujudkan harapan keluarga. Aku takut mengecewakan orang-orang yang telah berjuang untukku. Semakin besar harapan mereka, semakin besar pula tekanan yang kurasakan.
Hal paling berat adalah ketika perjuanganku mengejar masa depan seolah-olah berpacu dengan usia orang tua. Aku sering menangis diam-diam saat melihat mereka pulang dalam keadaan lelah dan sakit setelah bekerja demi membiayai pendidikanku.
Pada usia mereka sekarang, seharusnya kedua orang tuaku mulai menikmati masa tua. Namun, mereka masih harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikanku. Pemandangan itu kerap menimbulkan rasa bersalah dalam diriku.
Aku ingin segera berhasil. Aku ingin melihat mereka tersenyum tanpa lagi memikirkan biaya pendidikan dan kebutuhan hidup. Aku ingin memberikan ketenangan sebagai balasan atas semua pengorbanan yang telah mereka lakukan.
Namun, ada ketakutan bahwa waktu akan berjalan lebih cepat daripada kemampuanku untuk berhasil. Aku takut belum sempat memberikan kebahagiaan ketika tenaga mereka semakin berkurang dan usia terus bertambah.
Di tengah kegelisahan tersebut, aku menyadari bahwa diriku masih berada dalam sebuah proses. Aku sedang belajar mengenali diri sendiri, menemukan hal yang benar-benar kuinginkan, dan memahami cara menghadapi kehidupan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Terkadang aku bertanya kepada diri sendiri, apakah aku pantas mengeluh ketika orang tuaku telah lebih dahulu berjuang begitu keras? Pertanyaan itu membuatku sering berpura-pura kuat di hadapan mereka dan orang lain. Aku merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian agar tidak menambah beban siapa pun.
Namun, ada kalanya aku merasa iri ketika melihat teman-teman seusiaku dapat dengan bebas bercerita kepada orang tua mereka. Mereka bisa mengadukan persoalan sederhana dan tetap merasa didengarkan. Sementara itu, aku hanya menceritakan hal-hal yang kuanggap penting. Masalah kecil lebih sering kusimpan karena khawatir akan menambah beban pikiran orang tua.
Aku sering terjebak di antara dua pilihan: mengikuti kemampuanku atau memenuhi keinginan mereka. Dalam banyak keadaan, aku lebih memilih mengikuti keinginan keluarga karena jarang diberi kesempatan untuk menentukan pilihan sendiri. Bahkan, ketika telah memilih, keputusanku terkadang masih dianggap kurang tepat.
Meskipun demikian, aku tidak pernah membenci mereka. Aku mengetahui bahwa di balik semua tuntutan, ada kekhawatiran yang juga mereka simpan. Mungkin mereka tidak mengetahui cara lain untuk mengungkapkan kasih sayang selain dengan mendorongku menjadi yang terbaik.
Aku pun mulai memahami bahwa cinta tidak selalu datang dengan cara yang lembut. Terkadang, cinta hadir dalam bentuk kekhawatiran yang begitu besar hingga tanpa disadari berubah menjadi tekanan. Niatnya mungkin melindungi, tetapi caranya dapat membuat seseorang merasa kehilangan ruang untuk bernapas.
Setiap melihat wajah lelah orang tuaku sepulang bekerja, muncul rasa haru sekaligus sesak yang sulit dijelaskan. Air mata sering hampir jatuh, tetapi segera kuhapus agar tidak terlihat oleh mereka. Aku ingin membuktikan bahwa seluruh pengorbanan itu tidak sia-sia.
Namun, di sisi lain, aku juga ingin mereka mengetahui bahwa aku mempunyai batas. Aku dapat merasa lelah dan membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Beristirahat bukan berarti menyerah, sedangkan mengakui kelelahan bukanlah tanda bahwa aku tidak menghargai perjuangan mereka.
Aku juga mulai belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus memendam semuanya sendirian. Ada saatnya seseorang perlu berbicara dan meminta dukungan. Menceritakan kesulitan bukan berarti menambah beban orang lain, melainkan salah satu cara menjaga diri agar tetap mampu melanjutkan perjalanan.
Dari berbagai rasa takut dan kelelahan tersebut, aku memperoleh banyak pelajaran. Menjadi anak bungsu mengajarkanku untuk mandiri, menyelesaikan persoalan, dan menenangkan diri ketika keadaan tidak berjalan sesuai keinginan. Air mata yang jatuh diam-diam di kamar bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti bahwa aku sedang berusaha bertahan dengan caraku sendiri.
Menjadi anak bungsu bukan berarti selalu dimanja. Bagiku, posisi ini adalah perjalanan untuk belajar berdiri sendiri, memahami tanggung jawab, dan berusaha memenuhi harapan keluarga tanpa kehilangan diri sendiri.
Aku tetap bersyukur atas kasih sayang yang diberikan orang tua dan keluarga. Dari rasa lelah, takut, dan tertekan, aku menemukan kekuatan yang sebelumnya tidak kusadari. Semua itu menjadi bagian dari proses pertumbuhanku.
Namun, aku juga berharap keluarga memahami bahwa seorang anak tidak hanya membutuhkan tuntutan dan arahan. Anak juga perlu didengarkan, ditanya tentang kemampuannya, dan diberi kesempatan menentukan jalan hidupnya.
Aku ingin membahagiakan kedua orang tuaku, tetapi aku juga ingin menjalani kehidupan yang mampu kupertanggungjawabkan sebagai pilihanku sendiri. Sebab, keberhasilan paling bermakna bukan hanya ketika aku mampu memenuhi harapan keluarga, melainkan ketika aku berhasil tanpa kehilangan diriku sendiri. (Red)